AOV adalah ‘Dead Game’! Kamu Setuju?

GCUBE-AOV-DeadGame-Featured

Menjelang akhir tahun 2018 kemarin, komunitas pemain AOV diributkan dengan gaung jargon #AOVDeadGame. 

Tagar ini bermunculan, usai banyak player, disebut, merasa AOV sudah jadi “Dead Game”.

Sebenarnya apa sih maksudnya? Lalu kenapa AOV disebut sebagai Dead Game? Simak pembahasannya di artikel GCUBE berikut ini!

GCUBE-AOV-Komunitas-AOV-Bali
Sumber: esportsnesia/Komunitas AOV Bali

Sejak dua tahun kemunculannya, AOV menumbuhkan basis komunitas pemain yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia.

Semua yang ada di komunitas ini menciptakan suasana kompetisi yang seru namun tetap bersahabat di dalam arena Horizon Valley.

GCUBE-AOV-Komunitas-AOV-Malang
Sumber: esportsnesia/Komunitas AOV Malang

Meskipun demikian, tidak semua pemain yang ada di AOV itu sendiri memiliki keinginan untuk menciptakan suasana yang bersahabat di dalam game.

Jadi Kenapa AOV = "Dead Game"?

Kebanyakan dari mereka, yang biasa disebut dengan Toxic Player, adalah faktor utama mengapa AOV disebut sebagai Dead Game.

Kebanyakan player merasa mereka, toxic player, mengganggu jalannya pertandingan dengan bermain seenaknya tanpa memedulikan situasi rekan setimnya.

Keresahan ini yang turut dirasakan oleh seorang content creator AOV di YouTube, Mikael Anthony, dalam salah satu video di channel-nya di bawah ini.

Secara singkat, menurutnya #AOVDeadGame ini sebenarnya berasal dari komunitas AOV sendiri yang mulai tidak sehat.

Hal ini berdampak pula pada banyaknya content creator atau influencer AOV yang perlahan-lahan beranjak meninggalkan game ini.

Kalau menurut pendapat kalian sendiri, benar gak sih AOV sudah jadi Dead Game?

Tinggalkan komentarmu ya!

Lalu kira-kira seperti apa solusi yang harus dilakukan oleh Garena AOV Indonesia agar bisa menciptakan suasana AOV yang seru dan bersahabat lagi?

BACA JUGA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *